PENDEKATAN SEMANTIK DALAM STUDI ISLAM ; KAJIAN KARYA TOSHIHIKO IZUTSU

|

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semantik dalam Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa,kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, sert a pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu.[1]
Kemunculan semantik sebagai bagian dari linguistik yang dimunculkan oleh “Braille” di akhir abad 19 – ini masih menjadi perdebatan terhadap munculnya semantik sebagai disiplin ilmu makna – dengan judul tesisnya Essai de Semantique merupakan suatu perkembangan terhadap kebutuhan makna dalam ilmu kebahasaan. Semantik melakukan upaya pemaknaan terhadap simbol-simbol teks yang berakar dari teks itu sendiri. Pembagian pamahaman makna dalam semantik disajikan dengan beragam latar belakang, mulai dari makna dalam perbedaan suara (fonetik), makna dalam perbedaan gramatikal, makna dalam perbedaan leksikal, dan makna dalam perbedaan sosiolinguistik. Sedangkan pada proses berikutnya semantik lebih memahami pada kontekstulitas teks untuk menghasilkan sebuah makna. Dalam semantik, pergulatan dalam analisa makna suatu teks terus berkembang hingga saat ini, baik yang menganalisa dari unsur leksikal, gramatikal, maupaun kontekstual. Masing-masing memiliki daya analisa yang sambung, yang tidak dapat dilepaskan dalam kajian semantik.
Pendekatan semantik dalam menafsirkan al-Qur’an lebih nampak pada pemaknaan yang mereposisikan teks al-Qur’an pada tekstualitas dan kontekstualitasnya. Selanjutnya semantik sebagai bagian dalam ilmu kebahasaan memberikan daya tambah terhadap dimensi bahasa dan makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Toshihiko Izutsu lebih jauh mengglobalkan pemaknaan al-Qur’an dalam dimensi makna dasar dan makna relasional. Analisa ini mempunyai kecenderungan pemaknaan yang sangat luas dari segala dimensi pembentukan ayat-ayat al-Qur’an. Satu sisi semantik memang memiliki daya teori yang mampu mengungkap makna teks yang lebih tanyeng. Ini membuktikan bahwa antara semantik dan al-Qur’an sama-sama memiliki karakteristik  penganalisisan. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang membawa segala simbol yang menyertai teksnya, baik secara idiologi, kesejarahan, norma, dan segala segmen kehidupan kemanusiaan yang terkandung dalam al-Qur’an. Sedangkan semantik secara disiplin keilmuan membentangkan analisa teks yang sangat khusus sebagai ilmu bantu bahasa.
Toshihiko izutsu (1914-1993) adalah profesor universitas dan penulis banyak buku tentang keislaman dan agama-agama lain. Menurut izutsu Alqur’an bisa didekati dengan sejumlah cara pandang/pendekatan yang beragam seperti teologi psikologi,sosiologi, tata bahasa dan lain-lain namun dari sekian banyak pendekatan yang ada beliau konsisten menggunakan pendekatan linguistik khususnya semantik alqur’an
Izutsu menggunakan metode analisis semantik atau konseptual terhadap bahan-bahan yang disediakan oleh kosa kata al-qur’an yang berhubungan dengan beberapa persoalan yang paling kongkrit dan melimpah yang dimunculkan oleh bahasa al-qur’an. Yang dimaksud semantik dalam kajian izutsu disini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual pandangan dunia atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu , tidak hanya sebagai alat bicara dan berfikir , tetapi lebih penting lagi , pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya.
Dengan demikian, sangat menarik untuk mengkaji ulang tentang bagaimana proses pendekatan semantik yang dilakukan Toshihiko Izutsu dalam studi Islam, karena walau bagaimanapun keberadaan Islam yang notebenenya agama wahyu diawali dengan interaksi verbal yang disajikan antara Allah sebagai Tuhan kepada makhluknya (manusia). Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai analisis pendekatan semantik dalam studi islam, kajian karya Toshihiko Izutsu.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar belakang di atas adalah:
1.      Bagaimana biografi Toshihiko Izutsu?
2.      Apa pengertian dan fungsi semantik dalam metode penafsiran al-Qur’an ?
3.      Bagaimana metodologi penggunaan pendekatan semantik dalam karya Toshihiko Izutsu Relasi Tuhan dan Manusia?

C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk:
1.      Untuk mengetahui biografi Toshihiko Izutsu
2.      Untuk mengetahui pengertian dan fungsi semantik dalam metode penafsiran al-Qur’an 
3.      Untuk mengetahui metodologi penggunaan pendekatan semantik dalam karya Toshihiko Izutsu ; Relasi antara Tuhan dan Manusia












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Toshihiko Izutsu
Toshihiko Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 dan wafat pada 1 Juli 1993. Beliau  dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya pemilik bisnis di Jepang. Sejak usia dini, ia akrab dengan Zen meditasi dan teka-teki, karena ayahnya juga seorang ahli kaligrafi dan Buddha Zen praktisi awam. Beliau masuk fakultas ekonomi, Universitas Keio, tetapi dipindahkan ke departemen sastra Inggris, berharap akan diperintahkan oleh Profesor Junzaburō Nishiwaki. Ia menjadi asisten riset pada tahun 1937, setelah lulus dengan gelar BA.
Tahun 1958, beliau menyelesaikan terjemahan langsung pertama Al-Qur'an dari bahasa Arab ke Jepang.[2] Terjemahannya masih terkenal dengan linguistik keakuratan dan banyak digunakan untuk karya-karya ilmiah. Beliau sangat berbakat dalam belajar bahasa asing, dan selesai membaca Al-Qur'an dalam sebulan setelah mulai mempelajari bahasa Arab. Toshiko Izutsu adalah seorang profesor universitas dan penulis dari banyak buku tentang Islam dan agama-agama lain. Ia mengajar di Institut Linguistik Kebudayaan dan belajar di Universitas Keio di Tokyo, Iran Imperial Academy of Philosophy di Teheran, dan Universitas McGill di Montreal.
Toshihiko Izutsu juga merupakan seorang professor yang fasih di lebih dari 30 bahasa, termasuk Arab, Persia, Sansekerta, Pali, Cina, Jepang, Rusia dan Yunani, dengan penelitian yang bergerak di tempat-tempat seperti Timur Tengah (khususnya Iran), India, Eropa, Amerika Utara, dan Asia telah dilakukan dengan pandangan untuk mengembangkan pendekatan filosofis berdasarkan perbandingan agama dalam studi linguistik teks-teks metafisik tradisional. Izutsu sering menyatakan keyakinannya bahwa harmoni bisa dipupuk antara masyarakat dengan menunjukkan bahwa banyak kepercayaan yang diidentifikasi masyarakat itu sendiri dapat ditemukan, meskipun mungkin bertopeng dalam bentuk yang berbeda, dalam metafisika yang lain, masyarakat sangat berbeda.[3]
Beberapa karya tulis yang pernah dia hsilkan antara lain sebagai berikut:
·         Ethico-Religious Concepts in the Quran (1966 republished 2002) ISBN 0-7735-2427-4
·         Concept of Belief in Islamic Theology (1980) ISBN 0-8369-9261-X
·         God and Man in the Koran (1980) ISBN 0-8369-9262-8
·         Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (1984) ISBN 0-520-05264-1
·         Creation and the Timeless Order of Things: Essays in Islamic Mystical Philosophy (1994) ISBN 1-883991-04-8
·         Toward a Philosophy of Zen Buddhism (2001) ISBN 1-57062-698-7
·         Language and Magic. Studies in the Magical Function of Speech (1956) Keio Institute of Philological Studies

B.     Pengertian dan Fungsi Semantik dalam Metode Penafsiran Al-Qur’an
Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik. Maksudnya, semantik merupakan suatu ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain. Dengan demikian mencakup makna kata, perkembangan dan perubahannya. Makna merupakan obyek kajian semantik, karena ia berada dalam satuan-satuan dari bahasa berupa kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan wacana.

Dalam bahasa ada banyak kosakata yang memilki sinonim, terlebih dalam bahasa Arab. Aspek budaya terkadang juga masuk ke dalam aspek kebahasaan, meski kosakata itu sama secara leterlek, namun penggunaannya berbeda. Bidang semantik memahami jaringan konseptual yang terbentuk oleh kata-kata yang berhubungan erat, sebab tidak mungkin kosakata akan berdiri sendiri tanpa ada kaitan dengan kosakata lain. Alquran sering menggunakan kata yang hampir memiliki kesamaan, namun memilki titik tekan tersendiri.
Dengan demikian  fungsi dari simantik adalah untuk memunculkan tipe ontologis yang “dinamik” dari al-Qur`an dengan penelaahan kritis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi al-Qur`an tentang semesta, realitas. Hal ini akan menghasilkan konsekuensi adanya kemestian mencermati seluruh konsep-konsep kunci dalam al-Qur`an.
Kumpulan ayat-ayat al-Quran yang 30 juz, kemudian terbagi ke dalam beberapa surah dan ayat. Unsur-unsur yang membentuk setiap ayat-ayat al-Quran, menurut Abdu Muin Salim terdiri dari empat unsur; yaitu, Kata, Frasa (frase), klausa dan kalimat.[4]
Senada dengan pendapat tersebut, Noeng Muhajir merumuskan langkah-langkah kegiatan analisis suatu teks. Menurutnya, untuk menganalis suatu teks (ayat) hendaknya teks dipotong-potong menjadi kalimat-kalimat, kemudian dipotong-potong menjadi klausa, frasa dan akhirnya  menjadi kata.[5]
Berdasarkan maksud tersebut, maka untuk menganalisis suatu ayat atau sejumlah ayat diperlukan proses pemenggalan unsur-unsur yang membentuk ayat. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1.      Menganalisis kosa kata (mufradat) termasuk partikel-partikel huruf.
2.      Menganalisis frasa.
3.      Menganalisis klausa
4.      Menganalisis kalimat.
Untuk mengoperasikan beberapa hal tersebut, maka dapat ditempuh melalui cara:
1.      Menentukan obyek kajian, dalam hal ini data yang dibutuhkan berupa ayat al-Quran.

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين

2.      Data tersebut dianalisis secara struktural dengan mendeskripsikan unsur-unsur yang membentuk ayat.
a.       Kata. Kata yang membentuk ayat tersebut adalah: الصلوات،الصلاة،  , dan الوسطى  dan partikel-partikelnya adalah  و، على،   dan ل  pada lafaz jalalah.
b.      Frasa. Frasa pada ayat tersebut adalah على الصلوات،  dan الصلاة الوسطى
c.       Klausa. Klausanya adalah حافظوا  dan قوموا
d.      Kalimatnya adalah  حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين
Pada ayat di atas, setiap unsur atau satuan mengandung makna yang telah membentuk makan ayat secara utuh. Namun demikian pada dasarnya, setiap unsur dapat diberi tafsiran secara terpisah yang lepas dari struktur.
Misalnya, kata الصلاة dapat digunakan dengan berbagai makna, antara lain: do’a, shalat, dan rahmat.[6]
1.      Melakukan analisis fungsional dengan mendeskripsikan fungsi-fungsi yang membentuk ayat. Misalnya pada frase  الوسطى  الصلاة  tersusun dari dua kata yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Akibat terjadinya penggabungan dua kata tersebut, sehingga melahirkan makna baru yaitu shalat Ashar.[7]
2.      Mengadakan analisis sistematik, yaitu dengan cara menggabungkan seluruh fungsi-fungsi yang ada dalam ayat guna hubungan keterkaitan satu sama lain dalam membentuk makna sebuah ayat secara menyeluruh.
Misalnya, pada ayat di atas, terdapat kata الصلاة yang secara leksikal berarti do’a dan shalat. Kemudian kata tersebut diikuti kata الوسطى  dan membentuk frase, sehingga melahirkan makna baru-Shalat Ashar. Selanjutnya klausa قوموا memberikan  penegasan bahwa yang dimaksud dalam perintah tersebut adalah perintah mengerjakan shalat dan bukan perintah untuk berdo’a.
Dari 102 kali kata shalat terulang dalam al-Quran, 49 kali diantaranya terangkai dengan kata أقام dalam berbagai derivasinya. Realitas makna teks menunjukkan bahwa kata الصلاة  yang terangkai dengan kata أقام menunjukkan shalat bukan do’a.


C.    Pendekatan Semantik dalam Kajian Islam; Kajian Karya Toshihiko Izutsu; Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik Terhadap al-Qur’an
Al Qur’an sejak awal pewahyuannya ditujukan kepada seluruh umat manusia. Karenanya setiap orang baik Muslin maupun non-Muslim yang memiliki kecerdasan untuk merespon ayat yang terkandung dalam al Qur’an, memiliki hak yang sama untuk melakukan respons (memberikan penafsiran) terhadap sapaan wahyu al Qur’an. Toshisiko Izutshu (Profesor Emiritus di Keio University Jepang) yang notabene adalah pengikut agama Zen-Budha telah melakukan penafsiran al Qur’an melalui metode analisis semantik.
Menurut izutsu Alqur’an bisa didekati dengan sejumlah cara pandang/pendekatan yang beragam seperti teologi psikologi,sosiologi, tata bahasa dan lain-lain namun dari sekian banyak pendekatan yang ada beliau konsisten menggunakan pendekatan linguistik khususnya semantik alqur’an
Izutsu menggunakan metode analisis semantik atau konseptual terhadap bahan-bahan yang disediakan oleh kosa kata al-qur’an yang berhubungan dengan beberapa persoalan yang paling kongkrit dan melimpah yang dimunculkan oleh bahasa al-qur’an. Yang dimaksud semantik dalam kajian izutsu disini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual pandangan dunia atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu , tidak hanya sebagai alat bicara dan berfikir , tetapi lebih penting lagi , pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupi mereka, dengan demikian, dapat dipahami bahwa sematik sejenis weltanschauungslehre, takni suatu studi mengenai hakikat dan struktur dari pandangan dunia suatu bangsa pada suatu periode sejarah tertentu yang dilakukan dengan cara analisis metodoligis dari konsep-konsep utama budaya yang dilahirkanya sendiri dan terkristal kedalam kata-kata kunci bahasanya.
Dengan analisis semantik atau kajian tentang perspektif-perspektif yang ada dalam kata-kata kunci dalam wahyu al Qur’an, yang dilakukan ilmuwan jepang ini, terbukti makna obyektif ayat - ayat al Qur’an semakin mungkin dapat ditemukan dan dapat mengeliminir terjadinya penafsiran-penafsiran ayat-ayat yang menyimpang, serta semakin terbuka kemungkinan bagi umat manusia untuk menjadikan al Qur’an sebagai jalan keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan nyata di dunia ini.
Toshihiko Izutsu adalah seorang professor linguistik dan oriental studi kelahiran Tokyo, Jepang yang menjadi Guru Besar di Mc. Gill University. Ia menguasai banyak bahasa Negara-negara lain, tidak terkecuali bahasa Arab dan Inggris. Kegemarannya mempelajari bahasa, dimulai dari kejenuhannya mempelajari agama Zen. Karena sebagai anak pemimpin agama Zen-Budha, ayahandanya terlalu ketat dalam mendidik penghayatan terhadap agama Zen.
Kejenuhanya itu dilampiaskan untuk mempelajari berbagai bahasa, Islam dan al Qur’an, hingga ia berhasil melahirkan 4 karya tentang kajian semantik al Qur’an. Antara lain : The Structure of the Ethical Term in the Koran, Etico ? Religious Concepts in the Qur’an, God and Man in the Koran, Semantik of the Koranic Westanschauung, dan The Concept of Belief in Islamic Theology : A Semantic Analysis of Iman and Islam. Analisis semantik terhadap al Qur’an yang dilakukan ilmuwan Jepang ini, memposisikan al Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab (dengan terlebih dahulu mengesampingkan al Qur’an sebagai wahyu Illahi).[8][9]
Sementara tujuan utama dari analisis semantik al Qur’an hanyalah menyingkap makna dan merekonstruksi pandangan keduniaan dari al Qur’an. Sedangkan tujuan-tujuan lain, seperti; memperoleh petunjuk Allah, hukum-hukum Allah seperti yang dilakukan para ahli tafsir, oleh Izutsu dikesampingkan. Ayat-ayat al Qur’an didudukkan pada posisi yang sama dengan ayat-ayat lain di luar al Qur’an. Ayat-ayat dianalisis, baik secara linguistik maupun non linguisti. dan dipersepsikan bahwa ayat-ayat al Qur’an terus menerus dikomunikasikan oleh Allah kepada manusia.
Dari analisis ini ada persepsi, tentu saja Allah mengharap manusia merespon ayat-ayat-Nya, tanpa ada diskriminasi antara umat yang beragama maupun yang tak beragama, antara umat Muslin maupun non-Muslim. Sehingga semua umat manusia mamiliki hak yang sama untuk menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dan tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak memperbolehkan orang-orang non-Muslim menafsirkan ayat-ayat al Qur’an.
Meskipun diturunkan dalam bahasa Arab, konsep-konsep yang terkandung dalam al Qur’an bermuara pada pandangan dunia yang berbeda dengan pandangan dunia Arab Jahiliyah. Dengan analisis semantik, saling hubungan antara kosa kata dengan konsep-konsep yang terkandung dalam ayat-ayatnya, seringkali memunculkan makna baru yang berbeda dengan pemaknaan orang Arab Jahiliyah.[10]
Sementara satu-satunya sumber yang dapat digunakan untuk memahami makna konsep-konsep dalam al Qur’an hanyalah ayat-ayat al Qur’an itu sendiri. Sumber-sumber lain seperti : sunnah Rosulullah, syair dan tradisi Arab, cerita, maupun tradisi Israiliyat hanyalah sumber sekunder belaka. Analisis semantik menghendaki para penafsir al Qur’an untuk membaca keseluruhan data yang tersedia dalam al Qur’an dengan tanpa pretensi. Kemudian mengintegrasikan antara data-data dalam ayat yang satu dengan ayat yang lain, sebagai upaya untuk mengeliminir terjadinya anomali-anomali penafsiran yang diakibatkan pengunaan data ayat-ayat al Qur’an secara persial.
Sedangkan pengintegrasian penafsiran konsep dengan tanpa pretensi terhadap ayat-ayat al Qur’an memungkinkan analisis semantik mengeliminir terjadinya anomali-anomali penafsiran yang diakibatkan penggunaan data-data tertentu saja dari al Qur’an untuk mendukung ideologi yang telah diyakini sebelumnya. Analisis semantik Toshihiko Izutsu menghasilkan alternatif baru penafsiran al Qur’an secara obyektif sesuai dengan makna awal ketika wahyu al Qur’an diturunkan dan mempermudah adaptasinya dengan kehidupan sekarang. Sehingga mempermudah bagi setiap orang (umat manusia) untuk memahami makna dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat al Qur’an untuk di terapkan sebagai pedoman nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya untuk umat Muslim, tetapi juga untuk non-Muslin, karena sesungguhnya al Qur’an diwahyukan oleh Allah SWT adalah untuk keseluruhan umat manusia.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Toshihiko Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 dan wafat pada 1 Juli 1993. Beliau  dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya pemilik bisnis di Jepang. Sejak usia dini, ia akrab dengan Zen meditasi dan teka-teki, karena ayahnya juga seorang ahli kaligrafi dan Buddha Zen praktisi awam. Beliau masuk fakultas ekonomi, Universitas Keio, tetapi dipindahkan ke departemen sastra Inggris, berharap akan diperintahkan oleh Profesor Junzaburō Nishiwaki. Ia menjadi asisten riset pada tahun 1937, setelah lulus dengan gelar BA.
2.      Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik. Maksudnya, semantik merupakan suatu ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain. Dengan demikian mencakup makna kata, perkembangan dan perubahannya. Makna merupakan obyek kajian semantik, karena ia berada dalam satuan-satuan dari bahasa berupa kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan wacana. Dengan demikian  fungsi dari simantik adalah untuk memunculkan tipe ontologis yang “dinamik” dari al-Qur`an dengan penelaahan kritis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi al-Qur`an tentang semesta, realitas. Hal ini akan menghasilkan konsekuensi adanya kemestian mencermati seluruh konsep-konsep kunci dalam al-Qur`an. Yang bertujuan untuk menganalisis al Qur’an dan menyingkap makna dan merekonstruksi pandangan keduniaan dari al Qur’an.
3.      Analisis semantik Toshihiko Izutsu menghasilkan alternatif baru penafsiran al Qur’an secara obyektif sesuai dengan makna awal ketika wahyu al Qur’an diturunkan dan mempermudah adaptasinya dengan kehidupan sekarang.


DAFTAR PUSTAKA

Aditama. 2002. Abdul Chaer. Pengantar semantik bahasa Indonesia. PT Rineka Cipta: Jakarta
Departemen Agama RI. 1989, .Al-Quran dan Terjemahnyah. Semarang: CV. Toha Putra,
Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, t.th.
Djajasudarma, T. Fatimah. Tanpa tahun. Semantik: pengantar ke arah ilmu makna. PT. Rafika: Bandung
Hamidi, A. Lutfhi, 2009, Pemikiran Toshihiko Izutsu Tentang Semantik al Quran; UIN Suka Press

Izutsu, Toshihiko. 2003. Relasi Tuhan Dan Manusia; Pendekatan Semantik Terhadap Alquran. Tiara Wacana. Yogyakarta

Leech, Geoffrey, 2003, Semantik, Pustaka Pelajar; Yogyakarta
Munawwir, Ahmad Warson.  Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Pustaka Progressif, t.th. : Yogyakarta
Parera, 1991, J.D. Teori Semantik. Jakarta: Penerbit Erlangga,.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik leksikal. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Poerwadarminta, W.J.S. 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cet. V; Jakarta: Balai Pustaka,.
Radiyana, Aan. dan Abdul Munir. “Analisis Linguistik dalam Penafsiran al-Quran” dalam al-Hikmah: Jurnal Studi-studi Islam. No. 17, Vol. VII.
Salim, Abdul Muin. 1995, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam al-Quran. Cet. II; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Shihab, M. Quraish. 1993, Membumikan al-Quran dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
Muhajir, Noeng. 1988, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III. Cet. VIII; Yogyakarta: PT. Bayu Inara Grafika,.
Toshihiko Izutshu, God and man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung,1964. Tokyo: The Institute Of Culture and Linguistic Studies.







[3] ibid
[4] Abdul Muin Salim, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam al-Quran (Cet. II; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995), h. 24.
[5] Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III (Cet. VIII; Yogyakarta: PT. Bayu Inara Grafika, 1988), h. 164.
[6] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Progressif, t.th), h. 847.
[7] Lihat Departemen Agama RI., Al-Quran dan Terjemahnyah (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h. 58.
[8] Toshihiko Izutsu, God and man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung, (Tokyo: The Instititue of culture and linguistic studies,1964), hal. 11
[9] A. Lutfhi Hamidi, 2009, Pemikiran Toshihiko Izutsu Tentang Semantik al Quran; UIN Suka Press
[10] Ibid, A. Luthfi Hamidi

0 komentar:

Poskan Komentar